Mon 25th Jun, 2007, Just Curhat, Gila, Ga Jelas

Kuwalat


Hari mulai siang. Rasanya udara di Bandung siang itu semakin panas. Rencananya aku dengan ketiga orang temanku mau berkunjung ke rumah kost temen kami yang baru. Biasa, jika seorang anak kostan pindah pasti yang bersangkutan akan mengerahkan bala bantuan sebanyak-banyaknya untuk urusan gotong menggotong isi kamar. Dan yang paling dinantikan adalah acara makan-makan! Gratis bo! Masa di lewatin? Yang bener ajaaa…

Dengan semangat 45 yang tiada kendur, aku, Desi, Ani dan Dina berangkat menuju tempat kost baru Yustin di daerah Sarijadi yangentahdimanaituberada. Kami pergi dengan dua motor. Aku dan Desi sedang Ani dan Dina. Akhirnya kami menuju ke daerah yang belum pernah kami jelajahi sebelumnya.

Sebelum memasuki Pasteur, kami mengambil rute dari Balubur kemudian naik flayover Pasopati untuk menhindari macet di Dago. Maklum kalau weekend Bandung pasti macet berat. Ternyata di daerah Balubur sama saja macetnya. Macet yang bener-bener bikin kesel karena sama sekali nggak bisa gerak. Tapi untungnya saja Desi termasuk orang sedikit serampangan kalau mengendarai motor. Jadilah si Desi selip menyelip dengan mobil-mobil yang nunggu lampu hijau menyala. Sedang di Ani dan Dina mengikuti kami dengan santainya di belakang. Emang enak sih naek motor, bisa nyelip-nyelip dan menghindari macet.

Sampailah motor Desi tepat di belakang garis putih zebracross. Tapi dasar yang namanya Desi, dia malah maju kedepan melewati garis putih, malah semakin kedepan. Di ikuti si Ani yang dengan santainya mensejajarkan motornya dengan motor Desi. Ternyata bukan hanya Ani yang mengikuti Desi, ternyata motor-motor yang ada di belakang kami, mengikuti apa yang Desi dan Ani lakukan. Secara motor Desi dan Ani adalah motor paling depan. Kami hanya cengengesan nggak jelas melihat semakin banyak motor yang mensejajarkan diri dengan motor kami.

”Heh melanggar lalu lintas nih! Kalau ada Polisi gimana nih?” kataku sambil melihat kesekeliling, kali-kali aja ada polisi lagi ngumpet di semak belukar.

”Melanggar gimana? Kalau kita nggak maju, yang dibelakang sana yang mencak-mencak nyuruh kita maju. Brisik denger klakson bunyi muluu. Stresss!” kata Desi bersemangat

”Tetep aja kita itu melanggar lalu lintas!” kataku sok tertib.

”La iya, itu kan aturan. Namanya aturan kan untuk di langgar!”

Wuaaah udah deh ngga bisa di omongin lagi, aku yang sebagai penumpang pun hanya manut dan nyantai-nyantai aja duduk dibelakang Desi.

”Aku nggak tau Sarijadi nih! Kamu aja yang di depan, Des!” kata si Ani

”Ya wis, ayo kita di depan Des!” kataku mulai pede. Ya, gimana nggak pede, aku pernah kok ke Sarijadi, walaupun blom pernah lewat jalan yang kami lewati sekarang. Kalau dulu naek angkot, sekarang naik motor.

”Eh, lewatnya mana nih?” tanya si Desi

”Pasteur lurus terus deh, tapi jangan masuk tol ya! Nanti ada belokan kekanan kita belok sana.” kataku dengan gaya sok tau

”Trus abis itu?”

”Lurus aja deh.” aku mulai kepedean, padahal nggak tau juga.

Aku dan Desi berada di depan, sedang si Ani ada di belakang.

”Sarijadinya sebelah mana? Alamatnya mana sih?” Desi mulai kebingungan setelah melewati kampus Maranata yang megah. Aku membuka SMS dari Yustin yang isinya ”Sarijadi Blok 16 No.83”

”Daerah mana tuh?” tanya si Desi yang mulai memelankan laju motornya

”Mana kutahu! Terus aja deh! sambil liat-liat!”

Aku juga mulai kebingungan, masalahnya aku tidak menemukan jalan Sukajadi sambil tengok kanan dan kiri, motor desi terus melaju. Tiba-tiba saja samar-samar aku mendengar suara peluit saling bersahutan dengan merdunya. Dan ternyata di Desi yang ada di depanku masih terlihat santai-santai saja dan masih melaju. Saat aku menoleh kebelakang, ternyata seorang polisi yang tampangnya lumayan ganteng melambai-lambaikan tangannya kepada kami sambil meniup peluitnya dengan bersemangat. Wih polisinya cakep juga loh.

”Des, pak polisinya dadah dadah loh…” sambil ku tepuk-tepuk pundak Desi.

”Dadah…dadah gimana?” tanya Desi keheranan.

”Kayaknya di panggil deh” Ku lihat si pak polisi ganteng itu mengambil motor besarnya dan mengejar kami.

Desi menempikan sepeda motornya kebingungan Sedang si Ani yang ada dibelakang motor desi keheranan dan ikut berhenti

”Kok berhenti? Udah kelihatan gitu Blok 16 nya?” tanya si Ani

”Pak polisinya dadah…dadah ke kita loh!”

”Pak polisi? Mana?” tanya si Ani yang sepertinya belum nyadar ada polisi di belakang kami.

”Ayo mbak kita cabut ajah! Cepet!” kata si Dina dengan bersemangat. Sepertinya Dina bener-bener pengen melarikan diri dan dikejar polisi dengan suara sirine meraung-raung seperti di film-fim action Hollywood itu..

Tapi sebelum melarikan diri, si pak polisi ganteng yang tadi sempet dadah-dadah sudah menghampiri kami dengan motor besarnya. Ah jadi tampak lebih ganteng deh. Udah deh ketangkep kita sama polisi. Wah sial nih!

”Ayo mbak, kita ke pos dulu.” kata pak polisi ganteng dengan ramahnya

Sesampainya di pos, ternyata di sana ada tiga orang bapak polisi lain yang sudah menunggu. Pas nih satu-satu heheheh

”Mbak-mbak ini mau kemana sih?” tanya si bapak polisi yang berkumis tipis *serasa pengen nyabutin pake pinset*

”Mau ke Sarijadi pak!” jawab si Desi ketus

”Ini rombongan?” tanya si pak polisi lagi

”Iya pak!” sahut kami sambil bebarengan

”Surat-suratnya boleh dilihat?” bahasanya halus pisan pak? Pasti deh nanti di minta duitnya nih kita. Curigaaaa

”Tadi tau nggak, kalau melanggar lalu lintas?”

”Enggak pak!” jawab si desi yang pura-pura nggak tau

”Kok Enggak? Masa nggak liat tanda di larang terus itu.” sambil nunjuk-nunjuk rambu-rabu lalu lintas di larang terus yang sepertinya emang terlihat jelas.

”Ya maklum dong pak kita ga pernah lewat sini!” kata si Desi lagi. Sedang aku dan Dina hanya saling berpandangan padahal jelas lo semua kendaraan pada belok, bukan lurus.

”Emang rumahnya mana sih?”

”Dayeuh Kolot pak!” wah Desi mulai ngarang, padahal dia barusan pindah ke Antapani

”Tadi di semprit juga ga denger, malah jalan terus”

”Saya kira tukang parkir pak!” kata si Ani dengan polosnya

"Masa ngga liat pos polisi di situ?" sambil nunjuk pos polisi dadakan yang dibuat dari triplek dan beberapa kursi panjang yang biasa dibuat nongkrong di warung koppi

”Yang sms bilang, Maranata lurus terus. Ya saya Lurus pak!”

”Tapi lurus terus itu nggak boleh. Tapi kok masih lurus terus”

”Tapi saya kan dah bilang pak, saya nggak liat.”

”Ya udah sekarang gimana ini, mau di selesaikan di sini atau mau sidang saja?”

”Sidangnya kapan pak? Trus kalau diselesaikan di sini berapa pak?”

”Udah biar gampang dan cepet selesai…di sini saja lah. Bayar aja 25ribu”

”Semuanya kan pak?”

”Ya satu motor lah…jadi 50ribu.”

”Ayo pak…semua aja deh”

”Lho kok pake nawar! Kayak di pasar aja! Yang melanggar aja dua motor kok.”

”Tadi tau lurus terus nggak boleh kok bapak yang itu ikutan ngejar pake motor? Jadi bapak nglanggar juga dong! bapak juga ditilang dong, tau lurus nggak boleh kok ikutan lurus?”

”Loh kok saya di ikut-ikutin?” kata si pak polisi ganteng kebingungan

Karena bapak polisi yang paling senior dan yang paling galak susah banget di ajak kompromi, terpaksa akhirnya kami bayar juga. Walaupun mbayarnya harus ngumpulin uang seribuan dari masing-masing dompet kami, yang akhirnya total terkumpulk 40rb. Padahal ada lho uang 50ribu sampai 100ribu. Maaf pak, kami memang sudah terbiasa berlagak sok nggak punya uang. Jadi ya maaf pak kalau ternyata kami bayar nggak sesuai yang bapak-bapak harapkan. *kabur dari pos polisi dengan tawa penuh kemenangan* . Tetep saja rasanya tekor :D

Mon 25th Jun, 2007, Ga Jelas

Yang nggak aku suka

 

Kebohongan
Kebohongan
Kebohongan
Kecurangan
Ketidaksetiaan
Pengecut
Malas-malasan
Ketidaktegasan/ Plin-Plan
Cengeng
Gampang menyerah
Nggak Strugle
Manja
Nggak sabaran
Berantakan
Nggak tenang
Melebih-lebihkan

Kadang kalau aku menemuin semua yang aku sebutin di atas pada diriku sendiri, aku pun jadi sebel sama diri sendiri :D