Mon 4th Jun, 2007, Cerpen

Emak

Sekali lagi aku meminta Emak untuk tinggal bersamaku, di Jepang. Tapi jawaban Emak selalu sama saja. Tidak! Aku benar-benar dibuat pusing oleh Emak. Dibujuk dengan cara apapun, Emak tetap tidak mau. Pastinya aku tidak ingin meninggalkan Emakku tersayang yang kini tak muda lagi di desa Mergi Wetan seorang diri. Saudara-saudara emak yang lain kini sudah tinggal bersama anak-anak mereka di kota. Tinggal emakku saja yang masih bertahan di Mergi Wetan.

Emak sudah tua. Rambutnya sudah banyak yang memutih. Wajahnya pun kini nampak gurat-gurat ketuaan yang semakin kentara. Punggungnya juga sedikit bungkuk. Bagaimana nanti kalau Emak sakit? Bagaimana nanti kalau Emak kepingin makan sate lontong buatan Mas Harjo kesukaannya di desa sebelah yang jauhnya berkilo-kilo? Walaupun aku tahu Emak masih sangat sehat. Bahkan sedari aku kecil, tak pernah aku melihat Emak sakit parah. Paling-paling hanya masuk angin. Tinggal minum jamu dan tidur cukup, Emakku akan langsung sehat keesokkan harinya.

Kini Emak tinggak sendiri, di rumah sederhana yang dibangun oleh bapakku dengan susah payah. Di rumah itu banyak sekali kenangan yang tertinggal. Ah, aku mulai yakin kalau Emak tidak mau meninggalkan Mergi Wetan karena rumah yang dibangun bapakku. Sedangkan bapakku sudah mangkat beberapa tahun yang lalu. Aku sebagai satu-satunya anak emak merasa bertanggung jawab dengan kehidupan emak sekarang ini.

Aku dan istriku sudah tinggal di Jepang sejak tiga yang lalu. Tadinya emak benar-benar melarangku untuk pergi. Tapi toh akhirnya emak mengijinkan aku untuk pergi. Emak berkata, kesempatan itu datangnya sekali seumur hidup. Aku pun meninggalkan emak dengan berat hati. Namun emak melepasku dengan senyuman terlebarnya. Emak bangga, anak satu-satunya dapat menjadi orang sukses.

Akhir tahun ini aku pulang bersama Widya, istriku. Widya berjanji akan membantu membujuk emak untuk ikut ke Jepang. Tapi toh pada akhirnya usaha Widya pun sia-sia. Jawaban Emak masih sama. Tidak!

"Emak, nanti kalau nggak ada yang ngurusin gimana?"

"Emakmu ini masih bisa ngurus diri sendiri."

"Aku ingin deket-deket emak di Jepang sana."

"Kamu itu sudah dewasa apa masih kecil? Kamu pikir emakmu ini mau ngeloni anaknya kalau mau tidur?"

”Kalau kesepian gimana, Mak?”

”Aku nggak kesepian.”

”Di Jepang enak, Mak.”

”Jepang itu dingin, nanti kalau emak bersin-bersin, malu lah. Aku juga nggak bisa ngomong bahasa Jepang. Dan lagi aku nggak suka masakan Jepang yang pernah kamu bawa beberapa bulan yang lalu.”

”Nanti Widya yang masakin. Emak mau makan apa? Lodeh? Gudeg? Tempe bacem? Widya kan jago masak, Mak.”

Widya melemparkan tatapan mata tajam kearahku, bibirnya memberengut kesal. Aku tau, Widya memang tidak jago memasak seperti yang aku bilang ke Emak. Dia baru belajar memasak setelah menikah denganku. Tapi aku memakluminya. Sebagai pemula, masakkan Widya lumayan enak.

Aku mengenal Widya juga karena Emak. Tadinya aku tidak menyangka kalau emak bakal melamar Widya untuk dijadikan istriku. Masih mending kalau emak melamar Widya di rumahnya, tapi emak melamar Widya di atas kereta jurusan Jogja-Bandung, tepat dimana kami bertemu untuk pertama kalinya.

Sepanjang perjalanan dari Jogja ke Bandung. Emak terus mengajak ngobrol Widya yang duduk berseberangan dengan bangku kami. Gadis cantik, anak seorang pengusaha kain di Bandung yang sedang menyelesaikan gelar sarjana mesinnya di ITB.

Emak menceritakan tentang masa kecilku, menceritakan latar belakang keluarga kami yang petani, menceritakan tingkat pendidikanku. Bahkan yang lebih memalukan, emak menceritakan kebiasaanku dikeloni emak sebelum tidur. Kalau emak tidak melakukannya, aku pasti tidak akan bisa tidur. Tapi itu dulu, setelah lulus SMU dan duduk dibangku kuliah, aku tidak perlu lagi dikeloni emak. Walaupun selama beberapa hari aku tidak bisa tidur di rumah kostku di Jogja. Terang saja Widya tertawa mendengarnya, sambil melirikku dan melemparkan sebuah senyuman paling manis. Betapa terkejutnya aku saat tiba di Bandung, Widya berkata akan memikirkan pinangan emakku dan akan mengabari kami secepatnya.

Dan kini Widya sudah menjadi istriku. Usia kehamilannya menginjak minggu ke dua belas. Kehamilan pertama. Aku sangat bahagia. Ini semua karena emak. Ya, emakku.

”Kenapa kamu mau menerima pinangan emakku waktu itu?” tanyaku suatu ketika pada Widya. Dan jawaban Widya,  karena aku punya ibu yang hebat seperti emak. Aku tidak tau letak kehebatan emakku itu. Tapi karena yang berkata adalah istriku sendiri, aku mempercayainya.

”Mak, kenapa nggak mau ikut? Alasannya apa, Mak?” Sekali lagi aku bertanya pada emak yang sedang mengaduk-aduk nasi liwet di atas tungku. Emak tidak menjawab, hanya tersenyum sambil terus mengaduk-aduk. Setiap aku pulang, emak pasti membuatkannya untukku.

Suatu pagi di hari yang lain, emak membawa aku dan Widya berjalan-jalan mengelilingi desa. Setiap melewati rumah para tetangga, kami selalu menemui orang-orang yang tersenyum dan memberikan salam. Suara tawa anak-anak yang berangkat sekolah bersama-sama sambil melewati pematang sawah benar-benar terdengar ceria, tanpa beban. Mereka seolah-olah hanya memikirkan untuk pergi kesekolah. Bersenang-senang dan belajar.

Beberapa orang anak berlari ke arah kami, tapi bukan ke arahku maupun Widya. Tapi emak. Beberapa di antara mereka menarik-narik tangan emak. Mengajak emak menuju ke sebuah balong kecil.

”Mbah Karto, lihat itu ikan-ikan yang di pelihara bapakku!” kata seorang anak laki-laki berseragam SD itu dengan semangat. ”Nanti kalau sudah besar-besar, Mbah Karto aku kasih satu ekor, sudah matang Mbah!” anak itu tertawa, matanya berbinar-binar.

Emak kontan tertawa terkekeh-kekeh, tangannya yang keriput mengusap-usap kepala anak lelaki itu. Entah kenapa aku merasa cemburu pada anak lelaki itu. Ya, perasaan ini tidak pernah hilang dari dalam diriku, sedari aku kecil dulu sampai sekarang. Cemburu pada kedekatan emak dengan anak-anak yang lain. Walaupun aku sendiri tidak pernah merasa kehilangan perhatian dari emak.

Dulu sewaktu aku masih kanak-kanak, setiap sore Emak selalu menceritakan cerita-cerita legenda yang aneh-aneh, yang belum pernah diceritakan oleh siapapun. Aku tidak tahu dari mana emak mendapatkan cerita-cerita itu. Yang aku tahu, cerita-cerita emak selalu bisa membuat mulutku ternganga. Dan mulailah anak-anak tetangga berdatangan ke rumah, ikut mendengarkan cerita yang emak sampaikan. Seperti itu setiap hari. Aku selalu melihat wajah ceria emak saat melihat ekspresi wajah kami yang terkagum-kagum dengan cerita yang emak sampaikan.

Dan yang paling membuat aku kesal, teman-teman seumuranku datang tiap sore. Ya, aku sedikit senang juga karena aku punya banyak teman. Maklum, aku tak punya saudara dari rahim emak. Katanya, aku ini satu-satunya anak emak yang bertahan hidup dar kesembilan anak yang dilahirkan emak.

Pada dasarnya emakku adalah seorang yang sangat menyenangkan. Emak akan berbicara dengan semangat, matanya selalu menatap ke arah lawan bicaranya dengan lembut. Emak juga tidak pernah mengkritik orang. Emak selalu mendengarkan keluh kesah orang lain dengan sabar. Emak selalu tersenyum. Emak selalu berhati hangat, membuat setiap orang betah berlama-lama dekat dengan emak.

Ah, itukah yang membuat anak-anak desaku selalu merasa betah berada di dekat emak? Membuat aku cemburu karena perhatian emakku terbagi pada mereka. Itukah yang membuat Widya mau menerima pinangan emakku waktu itu? Membuat Widya mau menjadi istriku. Ah, aku benar-benar bersyukur memiliki emak. Karena itulah aku ingin emak ikut bersamaku ke Jepang. Tapi jawaban emak, tidak.

Kami berpapasan dengan beberapa ekor kerbau yang digembalakan oleh Nurdin, salah seorang pemuda di desa kami. Nurdin menganggukkan kepalanya kepada emak, dibarengi sebuah senyuman.

”Mbah Karto, nanti makan tape di rumahku ya? Sudah jadi lho mbah…” dan Nurdin pun berlalu bersama kerbau-kerbaunya.

”Ibu ini sepertinya jadi selebritis ya di sini?” Widya mengapit lengan emak dan memeluknya. ”Semua orang kenal.”

Wajah emak selalu berseri-seri setiap kali ada orang yang menyapanya. Mungkin itu semua yang tidak ingin emak tinggalkan. Kalau ikut aku dan Widya ke Jepang, yang pasti emak akan kehilangan tegur sapa orang-orang yang sudah bertahun-tahun emak kenal. Emak akan kehilangan senyum sumringahnya saat melihat anak-anak kecil itu berlarian ke arahnya. Emak pasti merindukan rumah yang di bangun bapak. Emak pasti dapat lagi duduk-duduk di bale bambu depan rumah, menikmati secangkir teh hangat sambil mengingat-ingat kenangan saat bapak masih hidup.

”Sepertinya aku mulai mengerti kenapa Emak tidak mau ikut kita ke Jepang.” kataku pada Widya setelah kami pulang dari berjalan-jalan. Widya hanya tersenyum.

”Emak tampak senang sekali saat berjalan-jalan tadi pagi. Dari dulu emak sama sekali tidak berubah, selalu memikirkan orang lain.”

”Masih cemburu, Mas?” Widya menawarkan secangkir kopi panas.

”Ndak, aku malah jadi bangga karena punya emak. Benar katamu Wid, emak emang hebat!” Aku meneguk kopi buatan istriku. ”Wid, mau tidak kita pulang ke Indonesia?”

”Aku kan harus mengikuti suamiku. Dimana suamiku berada, aku juga ada disampinya.”

Aku tersenyum bahagia. Pilihan Emak tak pernah salah. Aku semakin bangga memiliki Emak. Mak, aku pulang!