Pasir berwarna putih agak kelabu yang ada di dalam tabung jam pasir itu mengalir bagaikan air dengan kecepatan konstan, memberikan sebuah estimasi waktu kurang lebih sepuluh menit. Mata bulat Lauren memandang aliran pasir putih agak kelabu bagaikan air itu tanpa berkedip. Lauren benar-benar tak membiarkan satu butir pasirpun lepas dari pengamatannya. Lauren sangat menyukainya.
”Lauren, sayang! Kau harus tersenyum, kau mengerti, Nak?” Suara Mama terdengar samar-samar ditelinga Lauren. Kata-kata itu yang selalu Mama katakan sebelum melangkah pergi dan menghilang saat pintu depan rumah tertutup dari luar. Lauren ingin Mama mengakatakan kata-kata itu lagi.
”Mama akan keluar dari kamar sebentar lagi! Mama ingat jam pasirnya!” Seru Lauren pada dirinya sendiri. Ujung-ujung bibirnya tertarik membuat seulas senyum dingin tanpa ekspresi. Tubuhnya semakin kuat mengayun ke depan dan ke belakang, membuat kursi goyang yang didudukinya mengeluarkan suara decitan yang mengganggu. Suara decitan kursi goyang itu akan semakin kentara takala gerakan tubuh Lauren semakin cepat dan bertenaga. Gadis kecil dengan rambut bergelombang, berbaju tidur lusuh itu sangat menikmati duduk di atasnya.
”Lauren! Hentikan itu!” Mama akan membentak dan mengusir Lauren dari atas kursi goyang kesayangannya. Menyeretnya ke kamar dan menguncinya. Mama bahkan kadang lupa untuk membuka kamar Lauren selama sehari semalam. Tanpa makanan, air dan lampu penerang. Dan Lauren akan tinggal di dalam sana sambil meringkuk ditepian ranjang tanpa menangis sedikitpun.
”Lauren sayang, oh sayang….putri mama yang cantik, maafkan mama, Nak!” Mama memeluk tubuh Lauren dengan erat. Mata Mama mengeluarkan banyak-banyak air mata, Mama sedih dan Mama menangis.
Mama terlihat bahagia saat memasuki pintu utama rumah, tersenyum lebar saat putri kecilnya Lauren berlari-lari kecil menghampirinya, memeluk kaki Mama yang panjang dan langsing.
”Mama membawa hadiah sayang! Kau ingin melihatnya?” Lauren mengangguk dengan semangat dan menarik tangan Mama. Sebuah jam pasir dengan tabungnya yang terbuat dari kaca, pasirnya yang berwarna putih agak kelabu dan alas kayu jati berukir yang mengkilat.
Mama meletakkan jam pasir itu di atas meja. Butir demi butir pasir putih agak kelabu itu berjatuhan dari tabung yang satu ke tabung lain yang masih kosong, melewati leher penghubung tabung yang kecil. Pasir putih agak kelabu itu semakin lama semakin menumpuk.
”Mama akan mengijinkan putri mama yang cantik ini tidur bersama mama setelah pasir yang ada di tabung atas berpindah ke tabung bawah.” Mama membalik kembali posisi jam pasir itu. ”Jika semua pasir yang ada di atas berpindah ke bawah, mama akan datang. Dan hanya mama yang boleh mengubah posisinya.” Mama tersenyum dan berlalu dari hadapan Lauren, memasuki kamar dan menguncinya dari dalam. Ekor mata Lauren memandang pintu kamar Mama yang tertutup rapat. Beberapa kali pandangan Lauren beralih-alih antara pintu kamar Mama dan jam pasirnya.
Lauren memeluk jam pasir hadiah dari Mama dan meletakkannya di tepi jendela kamarnya, memandanginya tanpa bosan. ”Mama akan datang!” Sampai pada akhirnya butir pasir terakhir terjatuh, pintu kamar Lauren terbuka.
”Lauren sayang, Mama punya hadiah lagi buatmu sayang!”
Mata bulat Lauren membelalak senang, hatinya melonjak bahagia. Lauren berlari ke arah Mama dan memeluknya. Mama merengkuh tubuh mungil Lauren, menggendongnya, dan membawa putrinya keluar dari kamar. Mama mendudukkan Lauren pada kursi goyang dan melakukan sebuah sentuhan kecil yang membuatnya bergoyang. Lauren tertawa senang. ”Kau boleh duduk dan bermain-main dengan kursi ini sepuasnya. Mama tidak akan marah.” Mama tersenyum, kemudian menggendong Lauren dengan tangan kirinya, sedang tangan yang lain menyeret kursi goyang tua itu dengan susah payah.
Sebuah kepulan asap rokok dari mulut lelaki berkumis tebal itu membuat Lauren terbatuk-batuk. Mama merebut batang rokok yang masih mengepul itu dari tangan lelaki berkumis tebal, melemparkannya kelantai dan menginjaknya, menghancurkannya dengan kasar. Lauren melihat laki-laki berkumis tebal itu tersenyum padanya. Lauren hanya ingat laki-laki berkumis tebal itu seolah-olah ingin mengucapkan sesuatu kepadanya, tapi Mama sudah terlebih dahulu menyeret Lauren dan menguncinya didalam kamar. Sejak saat itu Lauren tak pernah lagi melihat lelaki berkumis tebal itu duduk diteras rumah, menghisap lintingan rokoknya dalam-dalam sambil menikmati secangkir kopi panas.
Lauren mendengar dan melihat Mama berteriak dan melemparkan barang-barang yang ada di depannya. Kata-kata kasar keluar dari mulut Mama yang selalu di hiasi oleh gincu merah dan mengkilat itu. Lauren bergidik ngeri dan berlari ke arah kursi goyang kesayangannya.
Suara lelaki berkumis tebal itu pun tak kalah kerasnya dari suara Mama, gerakannya lincah menghindari benda-benda yang melayang menyerangnya.
Lauren tanpa berkedip menyaksikan itu semua, dingin dan tanpa ekspresi. Hanya saja gerakan tubuhnya semakin kuat dan bertenaga ke depan dan ke belakang, mengayun kursi goyang yang di dudukinya. Mama berlari ke arah Lauren dan menyeretnya, memasukkannya dalam kamar dan menguncinya.
Keesokan harinya, saat matahari mulai menyapa dinginnya bumi, Lauren kembali melihat Mama dan lelaki berkumis tebal itu saling memukul dan mencaci. Dan sekali lagi, Lauren harus dikurung dalam kamarnya. Meringkuk seolah kedinginan. Kesepian. Lauren tak pernah menangis, karena menangispun Mama tak akan pernah mendengar dan membukakan pintu. Namu suatu hari saat lelaki berkumis tebal itu pergi dan tak pernah kembali, Mama memberikan Lauren dua hadiah, kursi goyang kesukaannya dan sebuah jam pasir.
”Mama akan pergi sebentar sayang. Tidak akan lama! Kau lihat jam pasir ini?” Mama membalik posisi jam pasir. Pasir-pasir putih agak kelabu itu mulai mengalir ke bawah. ”Setelah pasirnya habis, mama sudah akan ada di rumah!”
Laki-laki itu masuk ke dalam rumah, memberikan sebuah salam yang teramat sopan. Mama terlihat sangat menyukainya. Tapi tidak dengan Lauren. Lauren sangat membencinya dan ingin melakukan sesuatu agar Mama tak pernah berada dekat dengan lelaki itu. Lelaki yang selalu memiliki wajah-wajah yang berbeda setiap kali datang dan memasuki rumah. Dengan bau parfum menyengat yang berbeda, dengan jas-jas tebal berbeda merek dan mahal.
Namun Lauren tak dapat melakukan apapun. Setiap kali Lauren ingin menolong Mama, semua itu akan berakhir pada kamar yang terkunci. Mulai saat itulah Lauren tak pernah lagi mau menangis dan tersenyum. Mama mulai akan membentak dan memaksanya tersenyum. Dan Lauren pun tersenyum dengan ekspresi terdinginnya.
Malam yang dingin itu Lauren duduk di atas kursi goyangnya, menggerakkannya dengan cepat. Suara berdecit yang keluar setiap kali kursi goyang itu bergerak ke depan dan ke belakang tak akan pernah didengar oleh Mama di luar sana. Jam pasir itu masih mengalir dengan perlahan, mata Lauren tak pernah lepas dari sana. Saat butiran terakhir jatuh, Lauren menghentikan gerakan kursi goyangnya dan seketika itu juga suara decitannya hilang. Dan pintu kamarpun terbuka, Mama berdiri di sana dengan wajah kuyu dan muram. Lauren memberikan sebuah senyuman dingin tanpa ekspresi. Mama berjalan perlahan menghampiri Lauren dan membalik posisi jam pasir yang terletak tak jauh dari Lauren.
Lauren menyingkap tirai putih berdebu jendelanya. Butir-butir halus debu yang beterbangan membuat sesekali Lauren terbatuk hebat. Tangannya yang mungil berusaha melindungi hidung dan mulutnya dari masuknya debu-debu halus itu. Sinar matahari yang hangat membelai wajah Lauren yang pucat pias.
Mata Lauren terpuruk pada jam pasir hadiah dari Mama, sudah tiga hari ini Mama tak datang ke kamar Lauren dan mengubah posisi jam pasir. Mama melupakan soal jam pasir. Dan apakah itu berarti laki-laki dengan wajah-wajah berbeda yang datang ke rumah tak pernah lagi? Lauren tersenyum senang. Mama sudah terbebas dari laki-laki dengan wajah-wajah berbeda itu. Namun Lauren menjadi sedih seketika. Lauren ingin Mama datang ke kamarnya walaupun hanya mengubah posisi jam pasir.
Lauren ingin sekali keluar dari kamar pengap itu, melihat Mama dan mendengar suara ajakannya untuk tersenyum. Lauren tiba-tiba merasa sangat sedih saat mengingat permintaan Mama untuk tersenyum, karena Lauren hanya akan membalas senyuman Mama dengan sebuah senyuman dingin tanpa ekspresi. Lauren hanya bisa duduk di atas kursi goyangnya dan memandang pintu kamarnya yang selalu terkunci dari luar.
”Mama marah padaku? Mama tak ingin melihatku lagi? Yang tidak pernah tersenyum? Mama marah padaku karena aku menganggunya dengan kursi goyang dengan suara jelek ini?”
Suara berdecit itu terdengar tidak nyaman di pendengaran saat Lauren mulai bergerak ke depan dan ke belakang, semakin keras dan cepat.
”Mama pasti akan datang!” Lauren mempercepat gerakan kursi goyangnya. ”Aku ingin Mama!” Bulir-bulir bening berjatuhan dari mata bulat Lauren, membasahi pipinya yang pucat.
Suara decitan dari kursi goyang tua itu terhenti seketika saat Lauren melihat Mama memasuki kamar dan berdiri mematung. Lauren tersenyum penuh kerinduan pada Mama saat melihat Mama mamandangannya dengan tatapan mata sayu. Senyuman Lauren menghilang saat mengetahui Mama sama sekali tidak membalas senyuman yang diberikannya.
”Mama….aku tersenyum, mama…mama, ayo tersenyum!” teriak Lauren.
Wajah Mama benar-benar jauh dari senyum, Lauren tak pernah melihat Mama dengan ekspresi wajah seperti itu.
”Mama, aku ingin mama tersenyum!”
Mama berjalan perlahan mendekati Lauren. Wajah Lauren berseri-seri, senyumnya benar-benar mengembang dan lebar, menampakkan gigi-giginya yang mungil dan rapi. Namun Mama mengacuhkan Lauren. Mama lebih memperhatikan jam pasir yang terletak di meja kecil dekat kursi goyang tempat Lauren duduk.
Sentuhan lembut tangan Mama mengusap debu-debu yang menempel pada tubuh jam pasir itu. Lauren memandang sedih Mama. Mama pasti ingin mengubah posisi jam pasir itu dan pergi bersama laki-laki yang memilki wajah-wajah berbeda itu. Bahkan Mama tak lagi mau memandang Lauren.
”Maafkan mama sayang…” kata Mama dengan suaranya yang nyaris tak terdengar. Mama menunduk dalam-dalam dan duduk bersimpuh di lantai. Tangan Mama memeluk erat jam pasir yang pernah dihadiahkan pada putri kecilnya.
”Mama menangis?” tangan Lauren bergerak ingin membelai rambut Mama yang hitam bergelombang itu. Namun tiba-tiba Mama berdiri dan berlari keluar dari kamar Lauren.
”Mama bahkan belum tersenyum padaku! Aku ingin mama tersenyum padaku!” Lauren terisak. ”Mama kenapa lupa jam pasirnya!”
Lauren tak pernah tau kalau dua bulan yang lalu Mama menangis terisak-isak sambil memeluk tubuh Lauren yang ditemukan sudah dingin dan kaku tersungkur di bawah kursi goyang, dengan pelipis berdarah.
Lauren tak pernah tau bagaimana marahnya dia saat Mama lupa untuk mengubah posisi jam pasir selama dua hari. Betapa marahnya Lauren saat Mama lupa tak mengajaknya tersenyum. Lauren tak pernah ingat bagaimana kuatnya ia menggoyang kursi goyang tua itu sampai pada akhirnya tubuh mungilnya terjatuh dan kepalanya membentur meja di depannya. Dan Lauren tak pernah tau tubuh mungilnya kini sudah tertidur dalam dekapan tanah yang dingin setelah dua hari tidak ada seorangpun memasuki kamarnya.