Kalau Bintang Mulai Bersinar
Lebaran kemaren aku mendapatkan sedikit cerita roman, entah dari mana asalnya. Tiba-tiba saja muncul di otakku. Tak ada salahnya kan kalau aku menuangkanya sedikit di sini.
Dari atas sebuah bukit buatan yang menghijau. Dia dan si Dia duduk di atas bongkahan batu arang yang berasal dari bekuan magma gunung berapi. Punggung Dia dan si Dia saling menahan. Hanya terdiam memandang lembah yang terhampar di depan mereka. Hijau bak jamzrud. Tetes air hujan disetiap permukaan daun yang terkena sinar mentari membuatnya semakin berkilauan. Angin bertiup dingin dan lembab.
"Musim hujan memang menyenangkan"
"Membuat segalanya menjadi hijau berkilauan"
"Kau suka…?"
"Aku suka…"
Angin semakin kuat berhembus membawa awan-awan hitam yang pekat menyelimuti birunya langit dan menghalangi hangatnya mentari. Hujan akan datang. Musim dimana Dia dan si Dia menyukai cuacanya. Tersenyum dan memejamkan mata, menikmati dinginya angin, lembabnya udara, gelapnya suasanya dan sendunya hati.
"Kau ingat sesuatu ?"
"Apa ?"
"Tuhan punya kegemaran di musim hujan"
"Ya…aku ingat"
"Kita akan menunggu bukan ?"
"Kita akan menunggu…jangan sampai terlewat"
"Aku bersamamu…dan kau ?"
"Iya aku bersamamu"
Jika engkau dan kekasihmu menengadahkan wajahmu pada langit yang mendung dan berawan, menunggu sambaran guntur, pada saat ion positif dan negatif bertemu, pada saat kilatan cahanya menerpa wajahmu. Pada saat itulah Tuhan mengambil fotomu, dan menyimpanya pada bintang-bintang di langit sebagai albumnya.
Saat musim berganti, saat bintang-bintang mulai bertaburan di langit, saat sinarnya mulai menghiasi angkasa, saat itulah Tuhan melihat albumnya. Salah satu bintang-bintang itu berisi gambar engkau dan dia yang kau sayangi
Walaupun tak bersama di dunia, kau masih bersamanya di bintang-bintang itu, selama alam semesta ada, selama bintang-bintang itu bersinar, selama bintang-bintang itu beredar…selama cinta kalian secerah sinar bintang-bintang itu
Dia dan si Dia menunggu dan menunggu, sampai saat sebuah kilatan menyambar. Dia tersenyum dan bangkit dari duduknya
"Aku akan mencari bintangku saat musim berganti…"
"Aku akan menemukanya"
Dia berjalan meninggalkan si Dia yang masih duduk di atas batu arang. Jauh dan semakin jauh. Hujan turun dengan derasnya, membasahi tanah yang basah. Si Dia menengadahkan wajahnya ke langit, butiran-butiran hujan itu menghujani wajahnya, seperti tusukan duri
"Aku juga suka hujan…karena dalam hujan, tidak akan ada seorangpun yang tau aku menangis"
Si Dia menangis dalam hujan…
.:Untuk semua yang pernah merasakan sakitnya perpisahan…

