Mon 21st Aug, 2006, Cerpen

Jualan itu Susah Jendral !

Mau tau rasanya jualan ? Ternyata jualan itu susah jendral! Sumpah dah, ga boong. Ini bermula dari rasa pengen tau seperti apa sih rasanya jadi seorang pengusaha dan gimana perjuangannya sampe menjadi pengusaha yang berhasil. Ternyata……susaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah *elap keringet dan air mata*

Beberapa minggu yang lalu aku sama Desi (temen sedari kuliah dulu) iseng-iseng ingin merambah dunia bisnis *cailah*. Namanya juga sedang belajar mengenal seperti apa sih bisnis itu dan seperti apa dunia bisnis itu.

Ada celah kecil, calon ibu mertuanya Desi punya usaha membuat keripik usus ayam dan keripik kentang balado. Akhirnya iseng-iseng untuk ngambil beberapa dan menjualnya kembali. Wah ternyata sambutan pasar cukup menggembirakan. Hal ini dikarenakan karena keripik usus memang langka yang menjual dan susah dalam proses pembuatanya. Apalagi kami menjualnya dengan harga murah, apalagi dibandingkan dengan harga yang ada di supermarket. Anda bisa terbelalak melihat harga keripik usus ayam di supermarket *jelas yang ini hiperbola banget*

Setalah merasakan sambutan pasar yang cukup menggembirakan, akhirnya kami mencoba untuk merambah bisnis lain. Kali ini coklat ceres. Huhu ternyata sambutan pasar pun begitu baiknya. Kesanya kami jadi ketagihan berbisnis. Apalagi aku juga lagi megang usaha jualan buku bareng Yustin :D

Akhirnya, kami pun ingin merasakan bagaimana sih jualan eceran ditempat-tempat umum. Seperti di MPI Risti, Lapangan Gasibu dan Pondok hijau. Mengingat tempat-tempat tersebut jadi pasar tiban kalau hari minggu.

Ceritanya begini temans. Hari sabtu setelah badminton di GOR jalan Jakarta, aku dan Desi segera meluncur ke Ceres untuk ngambil coklat pesanan dari temen-temen yang nitip beberapa hari yang lalu. Maklum, kami hanya bisa ngambil di hari sabtu, masalahnya di hari-hari lain kam harus tetap bekerja :D *sibuk ya ?* 

Semua pesanan berhasil di dapatkan. Si desi juga sudah ngambil 40 bungkus keripik usus ayam dan kentang balado yang siap di jual pada hari minggu nanti. Rencananya sih hari minggu kami mau mencoba jualan di MPI. Pagi-pagi buta kamu sudah bangun dan mempersiapkan diri. Kenapa kami memilih MPI ? Karena di situ kami bisa sekalian ndengerin pengajian. Selain berdagang, kami juga bakal dapat ilmu dari pengajian.

Pergi dari rumah jam 6 pagi, padahal pengajianya mulai jam 8. Sampai disana ternyata pengajianya di pindah ke masjid Habiburahman di IPTN, kata satpam Risti. Akhirnya kamu meluncur kesana, eh nggak taunya masjidnya sepi-sepi aja. Waktu nanya sama orang sekitar, katanya pengajianya di pindah di Masjid Agung alun-alun. Nah loh gimana toh?!! Akhirnya selama perjalanan mau ke alun-laun, akhirnya kami memutuskan untuk ke Pondok Hijau di Geger Kalong

Menuju ke Pondok hijau ternyata tidak mudah. Mungkin karena Desi mengambil rute yang membingungkan dengan masuk ke perumahan, dengan jalan kecil dan banyak polisi tidur. Sempet kesel juga, masak harus terguncang-guncang dengan polisi tidur yang bentuknya sama sekali ngga landai dan ada perpuluh-puluh *tendangin polisi tidur*

Walaupun begitu sampai juga akhirnya di Pondok Hijau. Pondok hijau ini ternyata sebuah kawasan perumahan elite. Rumah-rumah yang ada termasuk rumah-rumah yang mewah, entah itu tipe berapa :D Maklum lom pernah liat pameran perumahan. Ternyata sudah banyak pedagang yang sudah menggelar barang daganganya di sepanjang jalan. Kami kalau mau berdagang pun sudah termasuk kesiangan.

Celingukan kesana kemari sambil nyari tempat strategis untuk menggelar dagangan, ternyata rasa ga pede pun menyerang, rasa takut menggranyangi pikiran, malu pun tak kalah pintarnya menjatuhkan mental kami. Akhirnya sambil mondar-mandir, kami beli sate lontong. Bukanya jualan malah jadi pembeli. Kami pun akhirnya pulang

Gimana kalau kita coba Lapangan Gasibu ? Ehmm boleh juga, akhirnya motor Desi melaju ke lapangan Gasibu. Dengan pedenya kami mencari tempat kosong untuk menggelar dagangan kami. Akhirnya kami menemukan tempat yang kosong walaupun seuprit, dekat ibu penjual tas dan mas-mas penjual sarung bantal. Dengan rada ragu-ragu kami akhirnya menggelar barang dagangan, walaupun hanya beralaskan koran *sumpe yang ini malu banget* 

Selesai menggelar dagangan. Perasaan yang tadi kami rasakan di Pondok Hijau pun menyerang kembali, kali ini lebih hebat, lebih kuat. Entah apa yang dipikirkan Desi waktu itu. Pokoknya pas itu aku merasa semua mata memandang ke arah kami dan seolah olah mereka bertanya kepada kami

"Ih ngapain tuh dua cewek di sini ?"
"Itu mo dagang apa mo ngeceng sih ? datengnya siang amat"
"pakeannya rapi amat yak?" Ya iyalah rapi, kan tadi niatnya mau ngaji sekalian

"Neng, masih kuliah ya ?" Tiba-tiba ada suara dari sampingnya yang mengejutkan lamunan. Ternyata dari bapak-bapak yang jualan sarung bantal dan celana panjang di samping kanan. Wah masih keliatan anak kuliahan ya hihihih. Serasa jadi muda kembali :D

Percakapan basa-basi pun terjadi. Sebenernya merasa ilfill juga meladeni pertanyaan mereka yang basa-basi banget. Walaupun begitu harus tetep diladeni, kalau enggak bakal dikira sombong. Dan menurutku itu tidak baik, karena kita harus sebisa mungkin membumi dengan kalangan para pedagang *cailah* 

Sambil menunggu pembeli, kami sempat juga ngobrol dengan ibu penjual tas. Selidik punya selidik, si ibu sudah berjualan di Lapangan Gasibu selama 3 tahun. Hebat! Pas lagi ngobrol enak-enak, tiba-tiba datang seorang laki-laki dengan gaya sok premanya mendatangi kami, sambil menghitung uang yang ada ditanganya

"Neng, kasih aja 500. Biasa preman, uang keamanan" Wih aku kaget juga pas itu. Jadi begini ya suasana pasar tiban itu. Akhirnya kami mengeluarkan 500 perak. Beberapa saat kemudian muncul bapak-bapak dengan gaya sok berkuasa minta uang keamanan lagi

"Loh pak, tadi kan udah"  kata Desi
"Lhoo….saya beda lagi ini, ayo mana….seribu deh si eneng sama ibu"

Terpaksa. Akhirnya……rasa takut semakin menjadi-jadi. Apalgi selang beberapa menit muncul lagi seorang laki-laki yang meminta uang keamanan pada seorang penjual pin di seberang sana. Si ibu penjual tas pun bercerita kalau dalam sehari bisa ada 6 orang yang minta uang, sedang yang secara resmi ada 1 pake tiket. Mungkin dari pemerintah daerah.

Hari semakin siang dan panas, rasa malu pun rasanya mulai hilang. Tapi ada perasaan entah apa itu yang sulit di ceritakan dengan kata-kata. Campur-campur antara takut, cemas, malu, resah dan entah apalagi. Dan kami pun akhirnya pulang, takut coklatnya meleleh karena kepanasan

Jualan di Gasibu sudah cukup menjadi pelajaran, kalau jualan itu harus tahan banting, sabar, tahan malu. Salut buat para pedagan yang bisa bertahan bertahun-tahun jualan di pinggir jalan. Bisa nggak ya aku sesabar mereka ? 

 

 

5 Comments »

Right Click Here for TrackBack URI

  1. Comment by keling, August 22, 2006 @ 3:21 am

    Hehehe susah yo, kalau aku dulu pernah ngamen berempat di Gasibu, pas malem minggu, sambil gangguin orang pacaran. Perasaanku campur aduk antara seneng dan malu. Pernah sampe lupa lagunya, terus diingetin sama yang lagi pacaran hehehe

  2. Comment by yustin, August 22, 2006 @ 6:07 am

    =)) mau ah kapan2 nggodain beli di sono

  3. Comment by dewi, August 22, 2006 @ 7:38 am

    hehe… baru tau yah klo jualan itu susah? :p

    Kayaknya enak tuh kripik usus dan baladonya. :)

  4. Comment by Mas Tom, August 23, 2006 @ 3:48 am

    Hehehehe… pernah juga sih merasakan hal yang sama, tapi emang kuncinya: pede!

    Ora sah isinan… toh jualan barang halal to? ;)

  5. Comment by irf, August 28, 2006 @ 4:17 am

    di, kalo mo kulakan keripik usus, di solo aja. bejibun tuh. bermacam2 keripik, gampang nyarinya di solo….hehehehehehe

    ealah, masak preman takut sama preman? ck ck ck ck ck ck

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>