Mon 28th Aug, 2006, About Me, Travelling

Outbond Jek!

Sabtu kemaren kantor mengadakan outbond ke daerah Pangalengan. Acara outbond ini sebenernya untuk memeriahkan perayaan 17 Agustus di kantor. Sebelumnya kami melakukan beberapa pertandingan di kantor seperti Pingpong 3 on 3, Futsal, Soccer table dan bola tangan. Dan akhirnya outbond family gathering sebagai acara puncak. Awalnya kami ingin outbond di daerah gunung Puntang, tapi karena ada kesalahan prosedur dari pihak EO nya dan pengelola lokasi, lokasi di pindah ke Situ Cileunca. Tidak begitu jauh dari gunung Puntang.

 

Kami berangkat dengan menggunakan bus, outbond diikuti oleh seluruh karyawan dan keluarga. Melewati jalan yang berliku-liku dan naik turun cukup membuat perutku merasa mual. Singkat cerita, sampai juga kami di lokasi outbond. Kami dikumpulkan untuk melakukan brifing, penjelasan singkat ttg apa saja yang bakal kami lakukan. Juga sedikit pemanasan singkat.

Fliying Fox 

Untuk sesi pertama yang aku lakukan, adalah Fliying Fox. Terus terang untuk hal beginian aku belum pernah melakukanya. Awalnya sih nampak seru-seru saja, tapi pas tiba giliranku, jantungku jadi berdetak lebih kencang, jadi merasa ketakutan. Tapi kepalang tanggung, harus dilakukan. Mau tidak mau :D . Ternyata setelah di coba rasanya sangat seru, jadi pengen lagi. Semua orang pun mendapatkan giliranya masing-masing.

Line Bridge 

Sesi kedua, Line Bridge. Berjalan diatas tali dengan ketinggian tertentu. Yang ini sama aja dengan sesi sebelumnya. Pas melihat orang-orang sebelumnya aku tenang-tenang aja, tapi pas melakukannya sendiri jadi lebih deg-deg an. Sebenernya yang membuat kawatir adalah tangga kayu buatan yang di pasang sebagai sarana untuk mencapa tali, sudah keliatan rapuh, takutnya pas di injek, tiba-tiba patah kan bisa jatoh, tapi akhirnya aku bisa sampe di atas juga :D . Tinggal melewati talinya menuju ujung satunya. Langkah pertama masih terasa ringan, sampai pada langkah kelima dan seterusnya perjalanan semakin terasa berat, rasanya badan di tarik ke atas dan ke bawah. Dan rasanya capek banget. Tapi syukurlah akhirnya aku sanggup menyelesaikan perjuangan mencapai sisi lainya. Aku turun dengan perasaan sangat lega. Fiuhhh….*elap keringet*

 

Team Building 

Sekarang waktunya team building setelah makan siang dan istirahat. Di sesi ini, kami akan dinilai kerjasamanya dalam team, kalau sebelumnya kami hanya di nilai secara personal. Dalam sesi team buliding kami melakukan 3 permainan, Dragon Head, One Finger dan Penjinak Bom.

Untuk permainan pertama (Dragon Head) adalah permainan yang murni mengandalkan kekuatan fisik. Disini kami di bagi menjadi 5 kelompok dengan beberapa anggota, 3 kelompok laki-laki dan 2 kelompok perempuan. Setiap orang dalam kelompok harus saling berkaitan dengan cara memeluk perut atau memegang baju teman yang ada di depanya masing-masing, sehingga membentuk barisan yang rapat dan kuat. Untuk anggota kelompok yang berada di paling belakang di pasangi balon. Dan tugas yang berada di depan adalah mengejar balon yang di pegang oleh lawan. Dengan cara apapun kami boleh memecahkan balon itu, tetapi dilarang menendang dan memukul. Balon siapa yang pecah dan barisan yang patah untuk pertama kalinya akan di anggap kalah. Permainan cukup seru dah melelahkan, sering sekali terjadi tubrukan dan tersikut-sikut, kepala beradu dengan hidung, kepala beradu dengan kepala, jatuh, tertumpuk-tumpuk dan terinjak-injak. Secara keseluruhan menyenangkan, walaupun rasa sakit ada dimana-mana :D

Permainan kedua, One Finger. Disini kami akan di uji bagaimana mengangkat satu gelas berisi air tanpa tumpah dengan hanya menyumbangkan satu jari saja. Gelas yang digunakan adalah gelas plastik. Semua team hampisr seluruhnya berhasil dengan teknik masing-masing. Sepertinya belum berakhir, panitia memotok bagian ulir yang terdapat di ujung gelas, jadi bentuk gelas akan penyok-penyok kalau di pegang *aduh gimana ngomongnya yah*. Tapi kamipun berhasil mengerjakanya dengan sukses :D

Permainan ketiga, Penjinak Bom. Disini, sudah disediakan sebuah ruangan kotak kecil yang berukuran 1x1 m, setiap sudutnya dibuat dari mambu dan dihubungkan dengan tali rafia. Dalam kotak tersebut akan diletakan 12 bola pingpong yang cerita sebagai bom, dan tugas kami adalah mengeluarkan bola-bola tersebut dari kotak tersebut dengan menggunakan sumpit. Setiap orang mendapatkan satu sumpit. Semua anggota kelompok harus masuk pada kotak tersebut dan mengeluarkan bola-bola itu tanpa menyenttuh tali rafia dan bambu yang berfungsi sebagai detonator. Kalau detonator tersentuh, kami harus mengulang permainan dari awal. Rata-rata kami harus mengulanag permainan karena kami menyentuk detonator pada saat akan keluar dari kotak :D . Namun permainan berlangsung dengan cepat.

Itu adalah permainan terakhir, acara outbond pun ditutup dengan ceramah dari pihak EO dan pesan-pesanya, bagaimana untuk meningkatkan keakraban di kantor. Outbond kali ini emang menyenangkan, lebih membuat ikatan pertemanan kami menjadi semakin erat. Secara keseluruhan acara a outbond ini menyenangkan dan melelahkan, tapi kurang bo, kurang banyak dan kurang lama, jadi pengen lagi hihih

Sebelum kami pulang, kami menyempatkan diri untuk naik perahu menyeberangi danau menuju ke pulau yang ada di tengah danau. Di sana terdapat kebun murbai, buahnya besar-besar dan manis, cukup membuat kami puas untuk berjalan-jalan di sekitar kebun.

Untuk menuju ke kebun murbai, kita harus menyeberanginya dengan menggunakan kapal, tiap orang dikenakan biaya 5000 rupiah, sedangkan untuk masuk ke kebun murbei dengan membawa keranjang, cukup dengan uang 5000 rupiah, tanpa keranjang 2500 rupiah. Setelah puas makan murbei dan foto2 akhirnya kami pulang

jadi pengen jalan-jalan lagi hehehe….. 

Mon 21st Aug, 2006, Cerpen

Jualan itu Susah Jendral !

Mau tau rasanya jualan ? Ternyata jualan itu susah jendral! Sumpah dah, ga boong. Ini bermula dari rasa pengen tau seperti apa sih rasanya jadi seorang pengusaha dan gimana perjuangannya sampe menjadi pengusaha yang berhasil. Ternyata……susaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah *elap keringet dan air mata*

Beberapa minggu yang lalu aku sama Desi (temen sedari kuliah dulu) iseng-iseng ingin merambah dunia bisnis *cailah*. Namanya juga sedang belajar mengenal seperti apa sih bisnis itu dan seperti apa dunia bisnis itu.

Ada celah kecil, calon ibu mertuanya Desi punya usaha membuat keripik usus ayam dan keripik kentang balado. Akhirnya iseng-iseng untuk ngambil beberapa dan menjualnya kembali. Wah ternyata sambutan pasar cukup menggembirakan. Hal ini dikarenakan karena keripik usus memang langka yang menjual dan susah dalam proses pembuatanya. Apalagi kami menjualnya dengan harga murah, apalagi dibandingkan dengan harga yang ada di supermarket. Anda bisa terbelalak melihat harga keripik usus ayam di supermarket *jelas yang ini hiperbola banget*

Setalah merasakan sambutan pasar yang cukup menggembirakan, akhirnya kami mencoba untuk merambah bisnis lain. Kali ini coklat ceres. Huhu ternyata sambutan pasar pun begitu baiknya. Kesanya kami jadi ketagihan berbisnis. Apalagi aku juga lagi megang usaha jualan buku bareng Yustin :D

Akhirnya, kami pun ingin merasakan bagaimana sih jualan eceran ditempat-tempat umum. Seperti di MPI Risti, Lapangan Gasibu dan Pondok hijau. Mengingat tempat-tempat tersebut jadi pasar tiban kalau hari minggu.

Ceritanya begini temans. Hari sabtu setelah badminton di GOR jalan Jakarta, aku dan Desi segera meluncur ke Ceres untuk ngambil coklat pesanan dari temen-temen yang nitip beberapa hari yang lalu. Maklum, kami hanya bisa ngambil di hari sabtu, masalahnya di hari-hari lain kam harus tetap bekerja :D *sibuk ya ?* 

Semua pesanan berhasil di dapatkan. Si desi juga sudah ngambil 40 bungkus keripik usus ayam dan kentang balado yang siap di jual pada hari minggu nanti. Rencananya sih hari minggu kami mau mencoba jualan di MPI. Pagi-pagi buta kamu sudah bangun dan mempersiapkan diri. Kenapa kami memilih MPI ? Karena di situ kami bisa sekalian ndengerin pengajian. Selain berdagang, kami juga bakal dapat ilmu dari pengajian.

Pergi dari rumah jam 6 pagi, padahal pengajianya mulai jam 8. Sampai disana ternyata pengajianya di pindah ke masjid Habiburahman di IPTN, kata satpam Risti. Akhirnya kamu meluncur kesana, eh nggak taunya masjidnya sepi-sepi aja. Waktu nanya sama orang sekitar, katanya pengajianya di pindah di Masjid Agung alun-alun. Nah loh gimana toh?!! Akhirnya selama perjalanan mau ke alun-laun, akhirnya kami memutuskan untuk ke Pondok Hijau di Geger Kalong

Menuju ke Pondok hijau ternyata tidak mudah. Mungkin karena Desi mengambil rute yang membingungkan dengan masuk ke perumahan, dengan jalan kecil dan banyak polisi tidur. Sempet kesel juga, masak harus terguncang-guncang dengan polisi tidur yang bentuknya sama sekali ngga landai dan ada perpuluh-puluh *tendangin polisi tidur*

Walaupun begitu sampai juga akhirnya di Pondok Hijau. Pondok hijau ini ternyata sebuah kawasan perumahan elite. Rumah-rumah yang ada termasuk rumah-rumah yang mewah, entah itu tipe berapa :D Maklum lom pernah liat pameran perumahan. Ternyata sudah banyak pedagang yang sudah menggelar barang daganganya di sepanjang jalan. Kami kalau mau berdagang pun sudah termasuk kesiangan.

Celingukan kesana kemari sambil nyari tempat strategis untuk menggelar dagangan, ternyata rasa ga pede pun menyerang, rasa takut menggranyangi pikiran, malu pun tak kalah pintarnya menjatuhkan mental kami. Akhirnya sambil mondar-mandir, kami beli sate lontong. Bukanya jualan malah jadi pembeli. Kami pun akhirnya pulang

Gimana kalau kita coba Lapangan Gasibu ? Ehmm boleh juga, akhirnya motor Desi melaju ke lapangan Gasibu. Dengan pedenya kami mencari tempat kosong untuk menggelar dagangan kami. Akhirnya kami menemukan tempat yang kosong walaupun seuprit, dekat ibu penjual tas dan mas-mas penjual sarung bantal. Dengan rada ragu-ragu kami akhirnya menggelar barang dagangan, walaupun hanya beralaskan koran *sumpe yang ini malu banget* 

Selesai menggelar dagangan. Perasaan yang tadi kami rasakan di Pondok Hijau pun menyerang kembali, kali ini lebih hebat, lebih kuat. Entah apa yang dipikirkan Desi waktu itu. Pokoknya pas itu aku merasa semua mata memandang ke arah kami dan seolah olah mereka bertanya kepada kami

"Ih ngapain tuh dua cewek di sini ?"
"Itu mo dagang apa mo ngeceng sih ? datengnya siang amat"
"pakeannya rapi amat yak?" Ya iyalah rapi, kan tadi niatnya mau ngaji sekalian

"Neng, masih kuliah ya ?" Tiba-tiba ada suara dari sampingnya yang mengejutkan lamunan. Ternyata dari bapak-bapak yang jualan sarung bantal dan celana panjang di samping kanan. Wah masih keliatan anak kuliahan ya hihihih. Serasa jadi muda kembali :D

Percakapan basa-basi pun terjadi. Sebenernya merasa ilfill juga meladeni pertanyaan mereka yang basa-basi banget. Walaupun begitu harus tetep diladeni, kalau enggak bakal dikira sombong. Dan menurutku itu tidak baik, karena kita harus sebisa mungkin membumi dengan kalangan para pedagang *cailah* 

Sambil menunggu pembeli, kami sempat juga ngobrol dengan ibu penjual tas. Selidik punya selidik, si ibu sudah berjualan di Lapangan Gasibu selama 3 tahun. Hebat! Pas lagi ngobrol enak-enak, tiba-tiba datang seorang laki-laki dengan gaya sok premanya mendatangi kami, sambil menghitung uang yang ada ditanganya

"Neng, kasih aja 500. Biasa preman, uang keamanan" Wih aku kaget juga pas itu. Jadi begini ya suasana pasar tiban itu. Akhirnya kami mengeluarkan 500 perak. Beberapa saat kemudian muncul bapak-bapak dengan gaya sok berkuasa minta uang keamanan lagi

"Loh pak, tadi kan udah"  kata Desi
"Lhoo….saya beda lagi ini, ayo mana….seribu deh si eneng sama ibu"

Terpaksa. Akhirnya……rasa takut semakin menjadi-jadi. Apalgi selang beberapa menit muncul lagi seorang laki-laki yang meminta uang keamanan pada seorang penjual pin di seberang sana. Si ibu penjual tas pun bercerita kalau dalam sehari bisa ada 6 orang yang minta uang, sedang yang secara resmi ada 1 pake tiket. Mungkin dari pemerintah daerah.

Hari semakin siang dan panas, rasa malu pun rasanya mulai hilang. Tapi ada perasaan entah apa itu yang sulit di ceritakan dengan kata-kata. Campur-campur antara takut, cemas, malu, resah dan entah apalagi. Dan kami pun akhirnya pulang, takut coklatnya meleleh karena kepanasan

Jualan di Gasibu sudah cukup menjadi pelajaran, kalau jualan itu harus tahan banting, sabar, tahan malu. Salut buat para pedagan yang bisa bertahan bertahun-tahun jualan di pinggir jalan. Bisa nggak ya aku sesabar mereka ?