Tue 30th May, 2006, Just Curhat

4 Hari di Purworejo

Tiba-tiba saja kerjaan jadi numpuk, padahal permintaan cuti sudah kuajukan sama leader. Mau tidak mau task ini harus kelar sore ini, jadi aku bisa pulang kampung dengan tenang. Padahal senin pagi task ini harus segera diserahkan sama boss. Huhu ngebut deh…Tapi syukurlah kerjaan kelar sekitar 90%, tinggal nanti hari senin melengkapi sedikit.

Bisku berangkat jam 19.00 jadi sekitar jam 18.30 aku harus sudah berada di pangkalan bis. Berangkat juga akhirnya, selama di perjalanan menuju Purworejo aku sama sekali tidak bisa memejamkan mata sedikitpun. Alhasil sampai di rumah, aku langsung menuju tempat tidur dan tidur pulas sampe siang :D

Di Purworejo aku ngga sempat kemana-mana, cuman diem di rumah. Dan beberapa kali bantuin bapak sama ibu bersih-bersih rumah yang lama ga keurus. Sebenarnya Sabtu pagi, aku sama ibu ada rencana main ke Bandung, dah lama rasanya ga ke Bandung kata beliau.

Sabtu pagi jam 5.30 ada seseorang mengetuk pintu warung. Biasanya bapak yang membuka pintu dan melayani pembeli. Selang beberapa menit kemudian, bapak keluar rumah untuk menghirup udara segar pagi hari. Aku sama ibu masih “ngulet” ditempat tidur masing-masing. Tiba-tiba rasanya rumah kok bergetar dan suara-suara gelas dan piring beradu di rak dan suaranya semakin keras. Tempat tidur juga rasanya ada yang ngoncang. Kontan saja aku terbangun sambil berteriak memanggil ibu. Ternyata ibu sudah terlebih dahulu berlari keluar sambil berteriak “Lindu…lindu!”

Beberapa orang tetangga yang berdekatan dengan rumah kami juga berhamburan keluar sambil berteriak histeris. Selang beberapa saat goncangan yang terjadi berhenti. Ini adalah gempa terhebat yang pernah aku rasakan di Purworejo. Dulu juga pernah terjadi jaman aku masih SMP, tapi tidak sekeras dan selama ini. Sempat kami mengira gempa yang terjadi karena aktifitas gunung Merapi

Setelah keadaan tenang, aku langsung menghidupkan televisi untuk melihat informasi gempa yang baru saja terjadi. Ternyata seluruh stasiun TV relay di jogja tidak mengudara, jadi terpaksa antena TV di putar ke arah Purwokerto. Salah satu stasiun tv swasta menginformasikan bahwa gempa yang terjadi bukan karena aktifitas Merapi, tapi karena pergeseran patahan lempeng Indo-Australia yang terus bergerak ke bawah lempeng Eurasia *atau semacam itulah :D *

Gempa dengan kekuatan 5,9 SR yang mengguncang Jogja dan sekitarnya ini ternyata juga meningkatkan aktifitas gunung Merapi. Merusakan puluhan ribu rumah, sarana dan prasarana umum, objek wisata dan merenggut ribuan orang yang dicintai. Sempat ada isu yang beredar kalau ada tsunami. Yang aku liat di televisi, banyak sekali orang berbondong-bondong berlari kearah utara atau Kaliurang. Sementara di utara wedus gembel sedang banyak-banyaknya. Sungguh ironis

Ternyata Klaten juga terkena imbas dari gempa, malah korbanya cukup banyak hampir 1000 orang lebih. Bapak sempet “ketar-ketir” juga masalahnya banyak dari saudara dari bapak yang tinggal di sana termasuk eyang putri. Pas mau di telpon, panggilan susah banget masuk. Tapi alhamdulillah semua baik-baik saja. Keluarga di Klaten tidak berada di daerah yang terkena gempa terparah.

Gempa-gempa susulan juga masih di rasakan di Purworejo, walaupun kadang hanya 1-3 detik.
Gempa yang terjadi di Jogja sungguh diluar perkiraan. Pada saat semua orang berkonsentrasi pada Merapi, di luar dugaan sebuah gempa mengguncang dari arah laut. Dukaku untuk Jogja dan sekitarnya

Kedekatan geografis antara Purworejo dan Jogja membuat bencana ini rasanya juga menimpa Purworejo. Tapi alhamdulillah di Purworejo tidak terlalu banyak korban. Semoga peristiwa ini membuat kita semakin mendekatkan diri pada Allah dan tidak merasa arogan. Karena dibandingkan dengan alam dan kuasa Allah, kita tak pernah akan merasa besar. Kita manusia hanyalah setitik atom.

.:: Untuk Jogjaku….dimana aku dulu belajar untuk hidup mandiri

Mon 22nd May, 2006, Kuliner

WaLe

Siapa sih yang ngga suka acara makan-makan, apalagi mencoba tempat-tempat makan baru yang sama sekali lom pernah dicoba. Bahkan mencari tempatnya adalah sebuah tantangan tersendiri, walaupun kesasar-sasar bakal dibela-belain sampe tempat makan itu ketemu.

Di samping hoby wisata alam ke seluruh Bandung, ada hoby tambahan yaitu wisata Kuliner hihi. baru nyobain satu kali sih lom kemana-mana. Aku ceritakan di sini yah, supaya nanti kalau temen-temen datang ke Bandung, harus nyobain tempat-tempat makan ini :D

Kali ini episode ke WaLe :

Sore itu lumayan mendung dan dingin, sepertinya mau hujan nih. Dan emang hujan. Keluar dari BSM setelah nonton Supper Soccer dan Da Vinci Code. Aku langsung pulang. Sebuah SMS diterima. Ajakan makan di Warung Lela, dari temen deketku yang sedang ulang tahun. Wah senang sekali, mumpung lom makan juga nih dari pagi. Dengan jawaban singkat aku menyetujuinya, apalagi perginya rame-rame. Pasti suasananya akan lebih menyenangkan.

Acara makan-makan merayakan ultah temenku pada awalnya cuman di hadiri aku, Ani dan Desi (personel trio kwek-kwek yang kostanya udah pada mencar sejak 2 tahun bareng terus). Tapi akhirnya kami pergi ber-enam. Aku, Ani, Desi, Mbak Fajar, Mas Keling dan Mas Anjak. Dengan sepeda motor, akhirnya kami menuju ke Wale

WaLe atau Warung Lela terletak di daerah Rancakendal. Bisa ditempuh lewat Cigadung ataupun Dago Pakar. Kalau Lewat daerah Cigadung harus siap dengan medan yang lumayan terjal, berbelok-belok dan naik turun yang ekstrim *terus terang yang ini hiperbola*. Dan jalur paling mudah memang lewat Dago Pakar. Walaupun begitu kami serombongan sering terpisah dari terjadilah saling tunggu menunggu. Tapi syukurlah, kami akhirnya bisa ngumpul di WaLe dan makan. Untungnya lagi ga pake waiting list. Pas dulu dateng pertama kali, sempet waiting list. Masa mo makan pake antri huhu..

Warung Lela memang lumayan jauh dari kota Bandung. Bisa dikatakan kalau WaLe ini letaknya ada di dataran tinggi alias di Dago atas dan nggak terjangkau sama kendaraan umum. Jadi kalau temens mau pada ke sini, terlebih dahulu sediakan alat transportasi, mobil atau motor. Becak juga boleh, asal kuat nanjak.

Tapi rasa lelah yang dirasakan selama perjalanan menuju ke WaLe akan segera hilang karena kita akan mendapatkan pelayanan yang baik dan ramah dari para pelayannya, pemandangan yang bagus, apalagi kalau malem. Dan juga suasan WaLe yang entik.

Bangunan WaLe, mirip dengan Pendopo sebuah rumah joglo di daerah Jawa. Semua perabot seperti meja dan kursi juga terdiri dari kayu dengan beberapa ukiran. Lampu-lampunya remang dan berwarna kuning. Dibeberapa pojok taman terdapat obor kecil yang semakin mengingatkan kita pada suasana pedesaan jaman dahulu kala.

Menu yang ditawarkan juga tidak terlalu mahal, pas juga untuk dompet mahasiswa. Oh iya, perlu di inget kalau di WaLe menu yang disedakan adalah makanan dengan menu utama mie. Bagi para pecinta mie, silahkan mencoba tempat ini.

Setelah kennyang dan ngobrol sana sini akhirnya kita pulang dengan perut kenyang. Ths buat yang udah nraktir, nice place

N Happy B’Day buat sahabatku, semoga selalu dalam kebaikan. Amin