Thu 9th Mar, 2006, Cerpen

Dia dan Leina

Melihatnya adalah hal yang paling menyenangkan. Apalagi saat dia tersenyum, berusaha menarik ujung - ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman walaupun kadang terlihat dia sama sekali tak ingin tersenyum. Udara sore ini cukup membuat Leina merasa kedinginan, dan tangan - tangan kekar milik dia merangkul bahunya untuk memberikan sedikir rasa aman. Leina tersenyum dan berterimakasih atas semua yang sudah diberikan dia untuknya. Wajah pucat Leina tak pernah terlepas dari senyuman selama dia ada disampingnya. Bahkan kadang Leina merasa dunianya hampa kalau tak bisa melihat senyum di bibir dia. Dan senyum itulah yang membuat Leina bertahan dan selalu merasa bahagia

Angin berhembus membelai wajah pucat Leina yang tertidur beberapa jam yang lalu. Dia ada disana. Duduk disamping Leina tanpa berusaha membangunkan Leina yang tertidur pulas, seolah menyatu dengan mimpi-mimpi abadinya. Dia memegang tangan Leina, merasakan tangan mungil itu menjadi dingin dan kaku dari detik ke detik

Dia menatap langit, matanya seolah ingin bertanya kepada langit. Langit yang menggantung di atas sana hanya menatap dia nanar. Ingin memberikan jawaban atas pertanyaan yang di ajukan oleh dia. Langit terdiam dengan gelapnya dan menjawabnya sesekali dengan cahaya kilat dan guntur

Leina tetap terdiam dan tak bergeming walaupun sepertinya alam disekitarnya memaksanya untuk segera bangun. Langit ingin berkata “Bangun dan hentikan dia yang selalu ingin mendapatkan jawaban dariku”. Namun Leina tetap tak ingin bangun, sepertinya mimpi-mimpinya sudah membuatnya merasa nyaman. Bibir Leina seolah tersenyum, merasa bahagia dengan mimpi yang dia lihat dan rasakan

Dan dia masih terpaku menatap langit malam. Suara binatang malam memecah keheningan. Dia tersadar dan menatap Leina lekat. Ini adalah detik terakhir dimana dia bisa menatap Leina. Keinginan penguasa alam untuk meminta Leina kembali. Dan dia hanya bisa mengulurkan tanganya untuk memberikan Leina tersayangnya kepada penguasa alam, tanpa bisa menolak dan membantah.

Dia tersenyum, karena hal ini akan membuat Leina merasa lebih baik dan aman

*Untuk seorang teman yang kehilangan orang terdekatnya

Fri 3rd Mar, 2006, Just Curhat, Cerpen

Apa kabar adik kecilku?

Kamu lucu, kamu humoris, kamu baik dan kamu membuat semua orang menyukaimu dengan tingkah dan perilakumu. Dan aku cukup senang dengan kedekatan kita, tentu saja sebagai seorang teman :) dan adik. Hei, kamu ingat…banyak waktu yang kita habiskan untuk bercanda. Dan nggak akan ada jauh dari yang namanya ketawa. Dan aku senang sekali mengenalmu sebagai teman dan adik.

Kamu menjengkelkan, kamu sering membuat semua orang merasa ndongkol dengan sikapmu yang cuek dan tidak pedulian dengan sekitarmu. Ada apa denganmu ? Rasa empatimu semakin jauh dari yang aku kenal dulu, kepedulianmu pada sekitar pun semakin tak kukenali. Kamu bukan lagi temanku dan adik kecilku yang membutuhkan percakapan-percakapan kecil, canda tawa, cerita bersama, makan bersama dan teman-temanmu ini. Ada apa denganmu ? more…