Sejati Namanya….
Namanya Sejati, nama gadis kecil itu. Gadis kecil berpakaian sederhana yang sering aku lihat sewaktu melewati perempatan BIP dengan angkot jurusan Kalapa - dago. Sebenarnya namanya bukan Sejati, tapi entah kenapa aku ingin sekali memanggilnya dengan nama itu. Gadis kecil, mungil, berpakaian apa adanya, dan rambut yang selalu di kuncir ekor kuda serta membawa benda yang mereka sebut sebagai alat musik. Benda ini terdiri dari susunan tutup botol yang sudah diratakan dan dijadikan satu dengan paku yang menancap pada kayu kecil. Kalau di goyangkan akan menimbulkan bunyi “crik..crik”. bahkan ada yang hanya menggunakan tangannya saja untuk menimbulkan bunyi-bunyian. Mereka adalah anak-anak jalanan yang sering ngamen di setiap lampu merah yang ada di seluruh Bandung
Sejati terlalu kecil, tidak seharusnya Sejati turun di jalanan untuk mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhannya. Seharusnya Sejati ada di bangku sekolah bersama anak-anak seumuran dia, bermain dan belajar. Tidak hanya Sejati yang mengalami nasib seperti ini, ada banyak anak-anak jalan yang seumuran Sejati yang tidak bisa menikmati nikmatnya bangku sekolah. Dan mungkin juga masih banyak Sejati yang lain di kota-kota yang lain yang sama sekali belum pernah aku lihat.
Berjalan kesana kemari, diantara sela-sela mobil dan motor yang sedang menunggu lampu hijau menyala. Melantukan lagu-lagu yang mungkin tidak nyaman untuk didengar oleh telinga kita. Lagu yang di lantunkan oleh seorang anak kecil yang sama sekali tidak mengenal apa itu arti dari keceriaan masa kanak-kanak. Mereka hanya mengenal apa itu uang, bagaimana mendapatkannya. Kadang aku sering tertawa kalau mendengar irama yang keluar dari mulut Sejati Sejati kecil, tidak ada semangat, lesu dan tidak perduli orang mau mengatakan apa tentantang lagu yang mereka nyanyikan. Itu membuktikan kalau sebenarnya jiwa dan hati mereka merasa tertekan dan mungkin juga diliputi oleh rasa jenuh harus terus mencari uang dengan jalan mengamen. Padahal di usia-usia mereka adalah saat-saatnya mereka menikmati indahnya masa kanak-kanak dengan bermain, tanpa memikirkan apaapun.
Lebih miris lagi, kalau kita melihat kenyataan yang sebenernya terjadi. Bukan keinginan Sejati mengamen untuk mendapatkan sedikit uang, tapi keadaanlah yang memaksa Sejati untuk turun kejalan. Tapi itu adalah keingingan orang tua Sejati. Mereka memaksa Sejati untuk turun kejalan dan menyanyi dengan irama apapun, sampai lagu-lagu cinta seperti group-group Dewa, Peterpan dan SO7. Sungguh menyedihkan bukan keadaan anak-anak pada jaman sekarang ini, mereka lebih cepat dewasa dibandingan dengan umurnya. Kata-kata jorok, cinta dan lainnya yang sebenarnya belum pantas keluar dari mulut anak-anak kecil seperti Sejati. Pergaulanlah yang memaksa mereka menjadi seperti apa yang kita lihat sekarang
Mereka pada orang tua anak-anak seperti Sejati malah dengan santainya duduk-duduk di tepi trotoar, berbincang satu sama lain, tertawa sambil meminum air air yang di sajikan pada gelas-gelas plastik. Sedangkan pada Sejati Sejati kecil berhamburan di jalan dengan wajah-wajah tak berdosanya, berusaha mencari uang untung memenuhi kebutuhanya setiap harinya. Sebenarnya mereka para orang tua masih terlihat segar dan masih dapat melakukan pekerjaan lain. Tapi sungguh ironisnya, anak-anak mereka lah yang mencarikan sesuap nasi bagi mereka para orang tua
Pemandangan ini adalah sebuah fenomena yang menyatakan secara langsung tindak kejahatan sosial terhadap anak-anak. Susah juga untuk di sebut sebuah kejahatan, pasalnya anak-anak itu adalah darah daging mereka. Dan mereka merasa punya hak atas anak-anaknya. Padahal anak-anak terlantar adalah anak negara, tapi apakah mereka bisa disebut sebagai anak negara ? Aku rasa bisa
Apa yang bisa kita lakukan untuk mereka, sedang pemerintah saja tak bisa menanganinya

