Tue 31st May, 2005, Lagi wise

Sejati Namanya….

Namanya Sejati, nama gadis kecil itu. Gadis kecil berpakaian sederhana yang sering aku lihat sewaktu melewati perempatan BIP dengan angkot jurusan Kalapa - dago. Sebenarnya namanya bukan Sejati, tapi entah kenapa aku ingin sekali memanggilnya dengan nama itu. Gadis kecil, mungil, berpakaian apa adanya, dan rambut yang selalu di kuncir ekor kuda serta membawa benda yang mereka sebut sebagai alat musik. Benda ini terdiri dari susunan tutup botol yang sudah diratakan dan dijadikan satu dengan paku yang menancap pada kayu kecil. Kalau di goyangkan akan menimbulkan bunyi “crik..crik”. bahkan ada yang hanya menggunakan tangannya saja untuk menimbulkan bunyi-bunyian. Mereka adalah anak-anak jalanan yang sering ngamen di setiap lampu merah yang ada di seluruh Bandung

Sejati terlalu kecil, tidak seharusnya Sejati turun di jalanan untuk mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhannya. Seharusnya Sejati ada di bangku sekolah bersama anak-anak seumuran dia, bermain dan belajar. Tidak hanya Sejati yang mengalami nasib seperti ini, ada banyak anak-anak jalan yang seumuran Sejati yang tidak bisa menikmati nikmatnya bangku sekolah. Dan mungkin juga masih banyak Sejati yang lain di kota-kota yang lain yang sama sekali belum pernah aku lihat.

Berjalan kesana kemari, diantara sela-sela mobil dan motor yang sedang menunggu lampu hijau menyala. Melantukan lagu-lagu yang mungkin tidak nyaman untuk didengar oleh telinga kita. Lagu yang di lantunkan oleh seorang anak kecil yang sama sekali tidak mengenal apa itu arti dari keceriaan masa kanak-kanak. Mereka hanya mengenal apa itu uang, bagaimana mendapatkannya. Kadang aku sering tertawa kalau mendengar irama yang keluar dari mulut Sejati Sejati kecil, tidak ada semangat, lesu dan tidak perduli orang mau mengatakan apa tentantang lagu yang mereka nyanyikan. Itu membuktikan kalau sebenarnya jiwa dan hati mereka merasa tertekan dan mungkin juga diliputi oleh rasa jenuh harus terus mencari uang dengan jalan mengamen. Padahal di usia-usia mereka adalah saat-saatnya mereka menikmati indahnya masa kanak-kanak dengan bermain, tanpa memikirkan apaapun.

Lebih miris lagi, kalau kita melihat kenyataan yang sebenernya terjadi. Bukan keinginan Sejati mengamen untuk mendapatkan sedikit uang, tapi keadaanlah yang memaksa Sejati untuk turun kejalan. Tapi itu adalah keingingan orang tua Sejati. Mereka memaksa Sejati untuk turun kejalan dan menyanyi dengan irama apapun, sampai lagu-lagu cinta seperti group-group Dewa, Peterpan dan SO7. Sungguh menyedihkan bukan keadaan anak-anak pada jaman sekarang ini, mereka lebih cepat dewasa dibandingan dengan umurnya. Kata-kata jorok, cinta dan lainnya yang sebenarnya belum pantas keluar dari mulut anak-anak kecil seperti Sejati. Pergaulanlah yang memaksa mereka menjadi seperti apa yang kita lihat sekarang

Mereka pada orang tua anak-anak seperti Sejati malah dengan santainya duduk-duduk di tepi trotoar, berbincang satu sama lain, tertawa sambil meminum air air yang di sajikan pada gelas-gelas plastik. Sedangkan pada Sejati Sejati kecil berhamburan di jalan dengan wajah-wajah tak berdosanya, berusaha mencari uang untung memenuhi kebutuhanya setiap harinya. Sebenarnya mereka para orang tua masih terlihat segar dan masih dapat melakukan pekerjaan lain. Tapi sungguh ironisnya, anak-anak mereka lah yang mencarikan sesuap nasi bagi mereka para orang tua

Pemandangan ini adalah sebuah fenomena yang menyatakan secara langsung tindak kejahatan sosial terhadap anak-anak. Susah juga untuk di sebut sebuah kejahatan, pasalnya anak-anak itu adalah darah daging mereka. Dan mereka merasa punya hak atas anak-anaknya. Padahal anak-anak terlantar adalah anak negara, tapi apakah mereka bisa disebut sebagai anak negara ? Aku rasa bisa

Apa yang bisa kita lakukan untuk mereka, sedang pemerintah saja tak bisa menanganinya

Tue 31st May, 2005, Lagi wise

Pembenaran Diri

Setiap orang, pada diri pribadi kita pasti memliki semacam perasaan yang disebut dengan “Pembenaran Diri”. Apa maksud dari “Pembenaran Diri” ? Walaupun sedikit, seseorang pasti punya perasaan kalau dirinya adalah yang paling benar. Coba di garis bawahi “Walaupun sedikit” Sebenarnya pengertian dari pembenaran diri tidak bisa dituliskan secara gamblang. tapi lebih enak untuk dimengerti

Sekarang yang perlu kita pertanyakan, apakah Pembenaran diri itu benar atau salah ? dan perlukah seseorang mencari sumber kebenaran ? Saat mengikuti sebuah diskusi, rapat, memberikan pendapat, adalah hal-hal yang memicu otak kita dan tindakkan kita untuk melakukan pembenaran diri. Karena pada saat itu kita menginnginkan adanya pengakuan atas apa yang kita lakukan dengan berbagai cara. Dan di sinilah terjadi berbagai macam konflik antar personal

Dengan terjadinya proses mencari pembenaran diri, disaat itu juga otak kita bekerja keras untuk mencari sumber kebenaran atas pernyataan kita. Walaupun setelah di telaah lebih lanjut, apa-apa yang kita lakukan tidak selamanya benar.

Bagaimanakah sikap seseorang yang melakukan pembenaran diri ?
Memberikan sebuat pendapat, melakukan hal-hal yang kita inginkan, sudah menjadi bagian dari hidup kita. Dan pasti kita selalu berusaha agar apa-apa yang kita lakukan baik dimata orang lain. Sekali kita mendapatkan apa yang namanya sebuah pembenaran, kita akan selalu mencari pembenaran-pembenaran lain. Hal itu akan semakin membuat kita memiliki perasaan kalau kitalah yang paling benar “Aku selalu benar, aku tidak pernah melakukan kesalahan”. Dan pada akhirnya sifat sombonglah yang akan menguasai pribadi kita. Aku menamakanya “racun pemikiran”. Karena dengan begitu tidak akan ada lagi rasa penghormatan terhadap orang lain

Dan apakah kita perlu mencari sumber pembenaran ?
Perlu! Kenapa aku katakan perlu ? karena pada dasarnya kita tidak ingin menjadi orang yang selalu menurut dengan perkataan orang lain. Carilah sebuah pembenaran dari apa yang kita nyatakan. Tentu saja sebuah pembenaran dengan dalil-dalil yang tepat, bukan dalil-dalil yang di ada-adakan untuk mendukung pernyataan kita. Pembenaran dengan sebuah keberanan yang dapat dibuktikan, bukan pembenaran omong kosong belaka. Yang perlu dicermati disini adalah cara kita mencari sumber pembenaran, dan sikap kita jika sudah menemukan sumber pembenaran tersebut.

Lakukan pembenaran diri secara tepat, dan temukan sumber kebenaran yang tepat. Jika ada sebuah kesalahan pada diri kita, lakukan Introspeksi diri

**Mencoba untuk menulis lebih dewasa**